| Man of Value |
| Friday, 05 February 2010 09:44 |
Man of value: manusia yang bernilai/berbobot/berkualitas. Ada banyak orang yang salah mengerti tentang hidup yang berkualitas, contoh: seorang wanita baru merasa "percaya diri" bila sudah memakai asesoris/tas yang bermerk, sepatu buatan perancang ternama, dll.Daniel 5:23-28: "Tuanku meninggikan.." Firman Tuhan ini membahas sebuah pesta yang menggetarkan, diselenggarakan oleh Raja Belsyazar. Perkakas dari Bait Allah yang kudus untuk penyembahan dan pemujaan kepada Allah dipakai untuk pesta mabuk-mabukan oleh raja dan para gundiknya. Tiba-tiba muncul tangan dan menulis di dinding: "Mene, mene, tekel ufarsin". Makna tulisan itu: Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan; Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia. Manusia yang berbobot bukanlah orang yang kaya harta, jabatan yang tinggi, terkenal/terpandang di dunia. Karena hal-hal tersebut hanya bersifat sementara. Manusia yang bernilai adalah orang-orang yang nantinya akan memerintah bersama Yesus dalam Kerajaan Sorga untuk selama-lamanya. Ada 3 hal penting yang akan membuat kita menjadi "Man of value": 1. Orang yang bernilai/berkualitas adalah orang yang menghormati Tuhan. Raja Belsyazar adalah contoh orang yang tidak memiliki rasa hormat dan takut akan Tuhan. Kalau kita ingin menjadi manusia yang berkualitas, kita harus menghormati Tuhan terlebih dahulu. Menghormati Tuhan bisa terlihat dari hal-hal sederhana, contoh: a. Cara kita mengikuti kebaktian di gereja. Di tempat kebaktian ada hadirat Tuhan. Kita mesti datang tepat waktu. Bukan berarti kita mesti tegang, tetapi kita sebaiknya mengikuti acara-acara ibadah di gereja dengan tertib. b. Dari setiap keputusan dan langkah-langkah hidup yang kita ambil. apakah hidup kita dipengaruhi oleh Tuhan. Misal: Kalau kita menjadi hamba Tuhan jangan fokus hanya pada masalah uang, pilih-pilih orang untuk dilayani, dll. Apabila kita menghormati Tuhan, maka semua hal-hal yang akan kita lakukan akan dipengaruhi oleh Firman Tuhan. Ketika kita menghormati Tuhan, maka kita akan menjadi orang yang bernilai dan berkualitas di mata Tuhan. Dan apabila kita tidak menghormati dan tidak peduli pada Firman Tuhan, kita akan menjadi seperti raja Belsyazar tersebut di atas. 2. Orang yang bernilai/berkualitas adalah orang yang berbudi luhur. 1 Petrus 4, 8-10, "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah." Yesaya 32:8, "Tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian." Berbudi luhur artinya berwatak mulia dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Jadi, orang yang berbudi luhur adalah: a. Orang yang memiliki karakter yang baik. Menjadi jemaat yang dewasa adalah berbicara mengenai karakter, yaitu memiliki karakter seperti Kristus. Memang betul kita perlu berkat jasmani dalam hidup ini. Tapi berkat tersebut akan otomatis mengikuti anak Tuhan yang memiliki karakter seperti Kristus. Karena berkat adalah hak kita sebagai anak-anak Allah. Persoalannya adalah berkat besar yang seharusnya menjadi hak kita tidak dapat kita terima karena karakter kita yang tidak siap. Berkat akan melimpah secara luar biasa bila kita memiliki karakter seperti Kristus. Kekayaan/ berkat jasmani harus disertai dengan karakter yang baik. Perubahan karakter bisa terlihat dari kehidupan kita sehari-hari, misal: pemarah menjadi lebih sabar, pembohong menjadi orang yang jujur, orang sombong menjadi ramah-tamah, dll. b. Orang yang memiliki nilai-nilai kebenaran. Pengalaman menunjukkan bahwa ketika kita bergaul dengan orang-orang yang sukses secara material, ternyata di dalam kehidupan mereka berbisnis banyak ditemukan cara-cara yang tidak memiliki nilai-nilai kebenaran. Walaupun di mata orang-orang dunia mereka adalah orang-orang yang sukses, tetapi di mata Tuhan mereka sebenarnya tidak bernilai. Kesuksesan dan kekayaan orang-orang Kristen harus dibangun di atas nilai-nilai kebenaran. Contoh: Olahragawan, jangan melakukan doping atau meminta kekuatan dari ilmu-ilmu hitam. Pengusaha, jangan egois atau ingin cepat kaya dengan menghalalkan segala cara yang merugikan orang lain. Hamba Tuhan, dalam pelayanan harus berhati-hati agar tidak tergiur pada kekayaan dan ketenaran diri sendiri. Salah satu contoh tokoh rohani yang patut diteladani kita semua, yaitu: Madame Theresa yang memiliki falsafah hidup "Berdoalah untuk kesetiaan kepada Tuhan Yesus, bukan untuk meminta kesuksesan." Matius 7:21, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." c. Orang yang berdampak. Orang yang memiliki dampak bagi orang lain. Marilah kita merenungkan, apakah hidup kita sudah memiliki dampak bagi orang lain? Matius 5:13, "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang." Kita akan memiliki hidup yang penuh dengan sukacita dan damai sejahtera bila kita memiliki dampak bagi orang lain. Nilai hidup kita bukan ditentukan dari apa yang kita miliki, tetapi dari seberapa dampak yang bisa kita bagikan kepada orang lain, seberapa besar yang bisa kita berikan kepada orang lain. Howard Hughes, seorang pengusaha yang sukses dan memiliki banyak perusahaan besar. Pada akhir kehidupannya, ia meninggal dalam kesepian. Marilah kita mencoba merenungi sebentar kehidupan kita, "Andaikan kita meninggal pada hari ini, apakah ada orang-orang yang menangisi kematian kita?" atau "Apakah orang-orang malah bersyukur atas kematian kita?" Apa yang akan dirasakan orang-orang di sekitar kita pada saat kematian kita, tergantung dari seberapa dampak kita kepada mereka, cara kita memperlakukan dan memberikan perhatian kepada orang lain, janganlah kita yang mencari perhatian dari orang lain. Begitu pula dengan cara kita memperlakukan harta kita di dunia. Apakah dengan kekayaan materi dan harta yang kita miliki, kita bersedia menjadi saluran berkat bagi orang-orang lain yang kekurangan dan membutuhkannya. Karena banyak kita temukan, orang yang rajin menebar hartanya tetapi berkatnya tak berkekurangan melainkan semakin berlimpah. Tetapi ada pula orang yang kikir tetapi selalu berkekurangan. Albert Einstein berkata "Berusahalah bukan untuk menjadi orang kaya, tetapi menjadi orang yang bernilai." Pengkhotbah: Pdt Yosia Abdisaputera Gembala Sidang GBI Nafiri Allah, Jakarta
Bookmark
Hits: 1040 Comments (0)
![]() |
Man of value: manusia yang bernilai/berbobot/berkualitas. Ada banyak orang yang salah mengerti tentang hidup yang berkualitas, contoh: seorang wanita baru merasa "percaya diri" bila sudah memakai asesoris/tas yang bermerk, sepatu buatan perancang ternama, dll.








