| Sikap Pluralis Gus Dur Akan Terus Hidup |
| Tuesday, 09 February 2010 10:14 |
|
"Gus Dur mengajarkan dalam melihat hubungan antara agama dan negara," jelas anggota Konferensi Wali Gereja Indonesia Romo Ismartono. Gus Dur, katanya, tidak menyamakan negara dengan agama, karena urusan duniawi tidak bisa disamakan dengan urusan manusia dan Tuhan. "Tidak memisahkan, karena jika negara tidak dijalankan oleh orang-orang yang tidak bertuhan akan kacau. Tetapi, Gus Dur membedakan antara hubungan agama dengan negara, karena dalam membedakan, tidak merendahkan agama kita dalam negara. Berbeda agama tapi ada persatuan dalam negara," ujar Romo Ismartono. Pemahaman Gus Dur tentang kehidupan beragama umat manusia menjadikan Gus Dur di mata para tokoh Lintas Agama merupakan salah satu tokoh pluralis Indonesia. Gus Dur, dinilai tetap teguh memegang dan menjalankan keyakinannya, namun bisa menerima, bahkan memperjuangkan perbedaan yang ada dalam kehidupan umat manusia dalam hal agama, budaya, dan gender. Romo Muji Sutrisno mengatakan, batas perbedaan agama dalam berhubungan dengan Gus Dur tidak ada, padahal ia adalah kiai dan pemuka agama Islam. "Gus Dur membedakan `agama bumi` dan `agama langit`. `Agama langit` itu Wahyu, sedangkan `agama bumi` hanya formalisasi hukum," jelas Romo Muji. Menurut dia, kebanyakan orang hanya beragama, tetapi tidak berkeyakinan. "Tetapi Gus Dur tidak demikian, Gus Dur beragama secara konsisten, jujur, dan manusiawi," tambah Romo Muji. (Antara)
Bookmark
Hits: 314 Comments (0)
![]() |
Sejumlah tokoh Forum Lintas Agama optimistis bahwa sikap pluralis yang selama ini diusung almarhum Gus Dur akan terus ada dan berkembang di Indonesia. Pernyataan tersebut dinyatakan beberapa tokoh agama dalam peluncuran dan diskusi buku "Sejuta Doa untuk Gus Dur" karya Damien Dematra di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta, Senin (8/2).







